Tulisan ini dibuat sekitar enam tahun yang lalu. Sebenarnya, tujuan penulisan ini hanya untuk mengasah daya tulis saya pribadi. Sekaligus memang ada aksidental yang sesuai antara ketukan jemari dan gerak hati ketika awal-awal mengecup dunia pubertas. Namun, ternyata saya baru sadar bahwa di dalam artikel ini ada jawaban dari pertanyaan para pembaca buku TUHAN, IZINKAN AKU PACARAN yang sempat saya buat. Inilah pertanyaan yang paling sering saya terima. Sebelumnya saya mengharap maaf jika ada gaya bahasa yang terkesan kaku, karena tulisan ini – sekali lagi – adalah mediasi saya ketika itu – duduk di bangku SMP – untuk mengasah daya tulis. Saya tidak edit dengan tujuan mengenang badai jerih diri ini Tentunya, gaya tulisan ini tidak sebagus yang tertuang di dalam buku TUHAN, IZINKAN AKU PACARAN yang memang saya yakini lebih membaik dan sedikit menyastra. Sekali lagi, tulisan ini sekedar bahan latihan saya. Juga untuk Anda yang ingin jadi penulis, ya sering-sering berlatilah. Seperti ini. Insya Allah, akan ada manfaat suatu saat. Dan terakhir, semoga tulisan ini bermanfaat buat Anda. Selamat membaca.
Rabu, 23 Februari 2011
Selasa, 22 Februari 2011
Pemesanan Buku dan Kontrak Bedah Buku
ASSALAAMUALAIKUM WR. WB.
Kepada seluruh komunitas group, blog, yang bergabung maupun yang saya gabungkan, Alhadmulillah, mulai sekarang kami menerima pemesanan buku TUHAN, IZINKAN AKU PACARAN untuk seluruh Indonesia.
Caranya? Untuk sementara (karena manajer lagi sibuk pulang kampung) silakan menghubungi nomor pribadi saya di 0852 60 444 747. Transaksi bisa dilakukan via sms/fb ketika admin dalam posisi online.
Pemesanan bisa hingga di atas 100 ex dengan harga semakin murah. Namun kami tetap menjanjikan harga yang tak lebih dari Rp. 32.000/-buku (dari harga asli di toko-toko buku besar Rp. 36.900). Jika pemesanan semakin banyak, harga bisa sampai turun drasitis hingga 25.000.
Pembayaran nantinya bisa melalui transfer ke
BNI 0197060543 atas nama Fikri Habibullah Muharram
Cabang Margonda Depok.
Kami berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik dengan ongkos kirim yang relatif murah (dengan estimasi waktu tertentu pula). Terbukti, beberapa hari yang lalu kami mengirimkan 100 exemplar ke daerah Aceh (pelosok) dengan ongkos kirim tak sampai Rp. 500.000. Jika dikirim via jasa lain seperti TIKI bisa mencapai 1.700.000.
Kami sering pula menghadiri undangan-undangan bedah buku ke berbagai daerah. Namun kami mohon maaf jika saat jadwal kuliah kami aktif, acara yang berbentrokan dengan jadwal kuliah kami (smester 2) , akan dipertimbangkan waktu kembali.
Kami ucapkan terima kasih bagi seluruh pemesan buku yang mempercayai layanan ini. Semoga bermanfaat dan menggairahkan para pembacanya.
Salam bahagia......
Fikri Habibullah Muharram (penulis)
Minggu, 20 Februari 2011
Saat Rasa Menyergah Hati, Namun Alasan Menjadi Kokoh
Aku merenung, saat usia bertambah. Duhai, Salim, indahnya kau menempuh hidup di dua puluh tahunmu yang lebih.
Hilang Satu Kekhawatiran
Jika usia kita 20 tahun, lebih kurang 6 atau 7 tahun sudah kita didera kegelisahan. Jika ejawantah rasa gelisah itu beraneka, maka memang ianya kembali pada masing-masing pribadi kita. Selalu ada pilihan. Dan konsekuensi dari pilihan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan. Ada kala sang gelisah menjadi kegenitan yang kita nikmati. Ada kala menjadi ketertekanan jiwa yang tak menghasilkan apa-apa. Atau menjadi motivasi 'amal yang luar biasa saat terampil mengelola.
Tetapi bagaimanapun, seperti kata Imam Ahmad, jika seorang pemuda tak berkeinginan untuk segera menikah, hanya ada dua kemungkinannya. Yaitu ?diragukan?, atau banyak berma'shiat. Ada yang bersikukuh menunggu usia 25. Sunnah Rasul katanya. Padahal Muhammad menjadi Rasul di usia 40, bukan sebelum 25. Mungkin lebih tepat sunnah Muhammad namanya. Dan sunnah Rasul tentunya justru berbunyi:
?Wahai sekalian pemuda, siapapun di antara kalian berkemampuan dalam ba'ah, maka hendaklah ia menikah. Sungguh ia, lebih tunduk bagi pandangan dan lebih suci bagi kemaluan. Dan barangsiapa belum berkemampuan, maka hendaklah ia berpuasa. Sungguh puasa itu benteng baginya.? (HR Al Bukhari dan Muslim)
Tak berkait dengan angka. Begitulah kita memaknai ?usia pernikahan?. Tetapi, kata Ustadz Mohammad Fauzil 'Adhim, kata-kata ?Dan barangsiapa belum berkemampuan? berarti pengecualian. Dan pengecualian berarti sangat sedikit. Maka jika 'Ali menikah di usia 18, Usamah ibn Zaid 17 tahun, berapa tahun lagi kita harus menunggu?
Betapa tinggi biaya sosial atas banyaknya pembujang. Biaya untuk kegelisahan-kegelisahan. Biaya untuk pemborosan-pemborosan yang nir pertanggungjawaban. Maka, jika Allah mendeklarasikan akan memperkaya orang yang menikah di Surah An Nuur ayat 32, maka benarlah nikah adalah separuh agama, soal yakin tidak kepada Allah Ar Razzaqul Wahhab.
?Jika seorang hamba menikah, maka menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada setengah yang lainnya.? (HR Al Hakim dan Ath Thabrani, dari Anas ibn Malik. Al Albani berkata: hasan)
Jika menikah mengeliminasi kegelisahan-kegelisahan kita yang terakumulasi selama 6, 7, 8, atau 10 tahun, menggantinya dengan kelengkapan separuh agama, maka benarlah kiranya:
HILANG SATU KEKHAWATIRAN! Baarakallaahu laka, wa baarakallaahu 'alaika, wa jama'a bainakumaa fii khaiir... -=-=-=-=-=-=-=-=-=
salam penuh cinta untuk yang merindukan pernikahan
Menghijrahkan Makna "Jatuh CInta" kepada "Bangun Cinta"
- Ancang-Ancang Hati Menyikapi Valentine –
Salman Al-Farisi merasa telah tiba saatnya untuk
menjemput panggilan jodoh, menikah. Seorang wanita Anshar yang memang
dikenalnya sebagai wanita shalehah dan berdedikasi tinggi terhadap Islam, telah
mengambil tempat di hatinya. Dan tentu saja bukan sebagai sang pacar. Tetapi
menjadi sebuah konsekuensi dari sebuah pilihan yang dirasa tepat. Pilihan
menurut nalar yang logis dan akal sehat. Pilihan yang berdasarkan nurani juga
ruh suci.
Namun bagaimana pun, ia merasa asing di sini.
Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah kota tempat ia tumbuh
dan dewasa. Madinah memiliki adat, budaya, bahasa, dan pernak-pernik kehidupan
yang berbeda dari tempat kelahirannya, sekaligus belum terlalu ia kenal. Hingga
ia berpikir bahwa melamar seorang gadis
Madinah adalah perkara yang memelikkan bagi
seorang pendatang sepertinya. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah dan mau membantu ia menemui sang gadis untuk menyampaikan maksud lisan
melamarnya. Maka diceritakanlah unek cintanya itu kepada sahabat Anshar yang
dipersaudarakan dengannya, Abu Darda. ”Subhanallah ... Wal hamdulillah...”
girang ria Abu Darda mendengar tuturan Salman yang berrencana meminang seorang
gadis Madinah.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukkan. Setelah
persiapan dirasa memada, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di
penjuru tengah kota Madinah. Itulah rumah seorang gadis shalihah lagi bertaqwa
yang telah disiapkan tempatnya di hati Salman. ”Saya adalah Abu Darda, dan ini
saudara saya Salman seorang Persia. Sungguh Allah telah memuliakannya dengan
Islam dan dia juga telah memuliakan Islamnya dengan jihad. Dia memiliki
kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah SAW, hingga-hingga Beliau menyebutnya
sebagai ahli baitnya.” Fasih lincah Abu Darda menuturkan maksud Salman
Al-Farisi dengan bahasa Bani Najjar yang paling murni.
“Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah
dengan sedikit berparas seri, ”Menerima Anda berdua sebagai sahabat yang mulia.
Dan adalah kehormatan besar bagi keluarga ini untuk menautkan seorang sahabat
Rasulullah yang utama. Akan tetapi, hak jawaban sepenuhnya saya serahkan kepada
puteri kami.” Sambil si tuan rumah memberi isyarat ke hijab yang dibelakangnya
sang puteri menanti dengan segala debar kecamuk di hati. ”Maafkan kami atas
keterusterangan ini”, kata seorang wanita yang merupakan Ibu kandung dari gadis
shalehah yang ingin dilamar Salman. Ternyata sang ibu mewakili suara sang
puteri tercintanya. ”Tetapi karena Anda berdualah yang datang, maka dengan
mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman.
Namun jika Abu Darda memiliki urusan yang sama, maka puteri kami menyiapkan
jawaban mengiyakan.” Jelas dan lugas sudah semua tertutur. Ada badai ironi yang
berkecambuk keras meliuk-liuk di antara hati Salman dan Abu Darda`. Ternyata
sang puteri lebih tertarik pada Abu Darda dari pada pelamar sesungguhnya!
Ya. Ini sangat mengejutkan dan benar-benar ironi.
Emosi membadai yang sulit dijangkah, sekaligus mengindahkan. Mengapa membadai?
Karena inilah persaudaraan cinta yang sama-sama berebut tempat di hati. Tapi
juga indah. Mengapa? Karena Salman langsung berseru ”Allahu Akbar....! Semua
mahar nafkah yang telah kupersiapkan ini akan aku serahkan padamu Abu Darda,
dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian.” --- Cinta tak harus memiliki!
Itu yang sering terucap oleh para remaja saat ini ketika cinta menggelayuti
kecambah hatinya. Dan sejatinya, kita memang tidak pernah memiliki apapun dalam
kehidupan ini. Seberharga apapun sesuatu itu, tetap ia menjadi prerogatif Allah
yang suatu saat bisa diambil kapan saja dan dengan cara apa saja. Terserah
Allah. Dari kisah mulia Salman, mengajarkan kepada kita untuk meraih kesadaran
tinggi di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa
bersalah memilih muqaddimah, dan seterusnya.
Sungguh ini tak mudah. Dan kita memang selalu
merasa memiliki seseorang yang sangat kita cintai. Maka mari belajar kepada
Salman tentang betapa sebuah kesadaran harus dimunculkan dalam situasi yang tak
mudah. Ya. Itulah menggeser makna dari jatuh cinta kepada bangun cinta. Dan
Salman telah mencetuskan teori indah itu. Mungkin ini yang orang Jawa
mempribahasakannya dengan, ”Milik nggendhong lali.”
Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya
hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus
mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Ah. Inilah letak
kesulitannya. Memaknai kisah Salman ini, penulis teringat akan sabda Umar bin
Khattab kepada Rasulullah tentang ketulusan hatinya mencintai Rasulullah. ”Ya
Rasulallah”, kata Umar perlahan, ”Aku mencintaimu seperti kucintai diriku
sendiri.” Beliau SAW menjawab. ”Tidak wahai Umar, engkau harus mencintaiku
melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.” ”Ya Rasulallah, mulai saat ini
engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini” ”Nah, begitulah wahai
Umar.” ---
Membaca kisah ini, Fikri takjub dan bertanya
bahwa sebegitu mudahkan bagi Umar untuk menata ulang cintanya dalam sesaat dan
hitungan kejap? Sebegitu mudahkah cinta digeser ke bawah untuk memberikan celah
yang lebih besar pada cinta sang Nabi? Ya. Dalam waktu yang sangat singkat.
Sangat singkat. Mungkin, bagi kita tak semudah itu. Cinta berhubungan dengan
buhul-buhul hati yang yang sangat sulit di-remove dari mula posisinya. Tetapi
Umar bisa. Dan mengapa dia bisa? Ternyata, bagi seorang Umar yang berjiwa keras
dan tegas, cinta cukup dimaknai sebagai kata kerja.
Ya. Cinta adalah kata kerja, bukan kata sifat.
Umar tidak rumit-rumit untuk menata ulang kerja cintanya. Cukup dibuktikan
dengan amal nyata dalam mencintai. Biarlah hati kita menjadi makmum bagi kerja yang
menjadi dasar cinta kita pada suatu objek. Kepada guru misalnya. Maka
bersungguhlah kita dalam belajar, sebagaimana anjuran sang guru. Belajar dengan
tekun dan giat, merupakan wujud cinta seorang murid kepada guru. Atau buktikan
cinta kita kepada orangtua dengan belajar sungguh-sungguh. Begitupun kepada
isteri. Nah, dari sini kita bisa memaknai sebagaimana yang ditulis Salim A.
Fillah yang mengutip The Art of Loving bahwa; ”Cinta itu seni” tulisnya. ”Maka
cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Sayang, pada masa ini cinta lebih
merupakan masalah dicintai (to be loved), bukan mencinta (to love), atau
kemampuan untuk mencintai”.
Singkatnya, cinta itu tak hanya berkorban, tapi
diperjuangkan. Maka menggeser makna jatuh cinta kepada bangun cinta berarti
mengambil peran besar menjadi seorang pencinta yang sesungguhnya. Dan
ketahuilah, tak banyak orang tahu tentang ini. --- Menyinggung sedikit valentine yang erat kaitannya dengan
jatuh cinta, merupakan trend mode yang merusak hakikat dan arti dari cinta itu.
Pacaran? Mungkin ini yang menjadi key word inti tulisan ini. Sebagai manusia,
kita memang telah difitrikan dengan cinta, sehingga banyak remaja saat ini yang
menerjemahkan makna cinta dengan pacaran. Lalu, benarkah pacaran sebagai wujud
cinta yang sesungguhnya? Benarkah pacaran mampu mengantarkan sepasang insan
kepada pintu cinta abadi? Benarkah pacaran membuat hidup kita meletup-letup
keras dengan gairah semangat hidup yang dahsyat? Secara menyeluruh, Fikri
pernah menjabarkan panjang lebar tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dalam
buku Tuhan, Izinkan Aku Pacaran. Pada kesempatan ini, penulis ingin mencoba
menjabarkan sedikit point tentang arti dari sebuah pacaran – sebagaimana
momentum valentine yang diakrabkan maknanya dengan jatuh cinta – insya Allah.
Fikri berani memberikan jawaban bahwa pacaran
adalah hal wajib jika kata pacaran diakronimkan sebagai pakai cara nikah. Itu
artinya, jika kita ingin pacaran yang halal, ya menikahlah! Akan tetapi, makna
pacaran akan kabur sekaligus suram jika diterjemahkan sebagaimana aktifitas
baku hantam haru biru rindu yang sering dilakukan remaja sekarang ini. Pacaran
adalah ya seperti yang kita lihat! Karena memang, tidak ada definisi yang jelas
tentang arti pacaran. Pacaran ya hanya sekedar pacar yang tujuannya having fun.
Mengapa harus having fun? Karena inilah yang
membedakan antara orang yang menikah dulu lalu pacaran, dengan orang yang
pacaran dulu baru menikah. Orang yang pacaran dulu lalu nikah, biasanya ia
hanya ingin menampakkan sesuatu yang indah-indah saja. Karena sangat jarang,
bahkan tidak mungkin sepasang kekasih akan menunjukkan kelemahannya kepada
kekasihnya. Malu! Hingga pun jika ada sepasang kekasih yang sedang melakukan
transferisasi perasaan masing-masing dengan menyebutkan kekurangannya satu-persatu,
sebenarnya ia bukan saling membuka diri, melainkan bahwa ia sedang melakukan
proses penopengan diri yang sewaktu-waktu bisa terungkap.
Biasanya setelah menikah. Bumbu-bumbu indah yang
semestinya ia gunakan ketika pernikahan nanti bersama kekasih yang halal, telah
habis digado selama ia berpacaran dengan kekasih yang tidak jelas statusnya.
Hingga nanti jika ia tetap mempertahankan status pacarannya itu, akan terkuak
empat atau tiga tahun setelah menikah tentang kejelekan-kejelekan yang tidak
terlihat selama masa-masa pacarannya. Ya. Memang pacaran hanya untuk keindahan.
Teori kimia cinta inilah yang dituturkan oleh Helleh Fishker, dimana proses
emosi cinta manusia akan berkembang cepat dan turun drastis dengan cepat pula
selama masa empat tahun. Setelah itu padam. Mungkin ini yang menyebabkan angka
perceraian tinggi, setelah membahterai pernikahan selama empat tahun. Lalu
retak. Lain halnya dengan orang yang menikah dulu baru pacaran. Biasanya,
pernikahan model ini yang tetap terjaga awet dan tetap harmonis. Dimana ketika
mereka tidak mengenal sama sekali atau memang tidak terlalu mengenal pasangan
hidup yang baru dilihat pertama kalinya, dan itu terjadi setelah aqad nikah
ditunai? Bersama seorang kekasih yang halal dan telah sah menjadi isteri,
tempat hati bersandar lelah dari beban dan derita? Bukankah
kenikmatan-kenikmatan pertemuan pertama itu terjadi ketika salah tingkah? Dan
mungkinkah salah tingkah ini akan terjadi jika seseorang sudah terlalu mengenal
pasangan hidupnya? Lalu, bagaimana jadinya jika semuanya sudah dilakukan?
Mungkinkah salah tingkah ini akan terjadi? Sesuatu apa yang akan dirasakan
bersama ketika sebelumnya sudah dirasa semua? Anda paham jawabannya. Maka yang
sebenarnya, menyandang status janda atau duda lebih mulia dibanding mantan pacar
si A. Mengapa? Karena setidaknya ia telah berani memerdekakan cintanya di jalan
yang diridhai Allah melalui pintu pernikahan, walau pun harus kandas ditengah
jalan karena berbagai macam hal perceraian, entah karena cerai mati atau
keadaan-keadaan tertentu yang mengharuskan untuk membuka pintu perceraian.
Tentu, dengan sebuah konsekuensi bahwa nikah
bukan alasan ”dari pada pacaran” Tapi pada dasarnya, sang janda atau duda
adalah mujahid cinta yang telah berani menghidupkan dan menghijrahkan makna
jatuh cinta kepada bangun cinta. Sebagai penutup, marilah sama-sama kita
menghijrahkan cinta dari kata sifat menuju kata kerja, maka peradaban indah
akan tersusun damai dan akrab di hati nurani para perindu Illahi. Jadikan cinta
sebagai pengiring, bukan tujuan. Biarlah cinta menjadi makmum dari amal-amal
shalih kita. Demi Allah, cinta adalah pengiring, bukan tujuan. Jadilah kita
imam atas cinta, bukan makmum yang diperkosa oleh cinta. ”Diwajibkan atas kamu
berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu
mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 216) Dalam jihad, cinta menjadi
sederhana. Bukan lantaran kita tidak suka melihat darah tumpah, bukan karena
kita menyukai anyir peperangan. Perasaan kita boleh tetap membencinya.
Tapi cinta adalah sebuah kata kerja dalam ucapan
para sahabat; Kami siap untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan rajin
maupun malas, baik dalam suka maupun duka, dalam keadaan rela maupun terpaksa.”
(Artikel
ini pernah dipublikasikan di buletin Nabawi Darus-Sunnah International for
Hadith Sciences)
Dalam Badai Cinta, Dekap Aku Lebih Erat
Jika syarat menulis perlombaan ini didasarkan pada pengalaman pribadi seorang ibu, maka saya bukanlah termasuk darinya. Saya remaja laki-laki yang saat ini masih berusia 19 tahun, selain masih tercatat sebagai mahasiswa semester pertama di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, saya memiliki hobi menulis yang kuat. Melalui menulis yang telah menjadi hobi dan bagian hidup inilah saya tuangkan bakat. Dan Alhamdulillah, pada usia 18 tahun saya berhasil menerbitkan buku dengan judul Tuhan, Izinkan Aku Pacaran, yang diterbitkan oleh Gema Insani Press. Sampai saat naskah ini ditulis, buku saya sudah naik cet
Kamis, 10 Februari 2011
MUSUH BERSELIMUT KACA (Suara Globalisasi, Islamku Internetku)
Untuk Anda yang berbahagia dengan internet, saya rasa tidak masalah. Karena berbicara tentang internet secara global, memang memiliki keunikan tersendiri bagi kita yang selalu meningkahi kehidupan dengannya. Namun, ketika pembicaraan ini kita sodorkan pada user masing-masing, maka berbicara sisi batilnya adalah sesuatu yang tak bisa kita telak. Mafia internet, begitu kita istilahkannya. Insya Allah, kita akan membicarakan tentang sisi ini nanti.
Seperti kita tahu saat ini, dunia memang telah menampakkan sisi modernitasnya. Zaman dimana segalanya serba berteknologi. Saat keterjarakan samudera serasa seperti di depan mata. Saat lambatnya hari-hari yang berlalu seperti mengilat cepat. Ya. Karena semua serba dekat dan cepat. Mungkin ini yang sering kita sebut dengan zaman globalisasi. Zaman yang tak lagi menampakkan jarak.
Telah kita pahami bahwa era globalisasi salah satunya ditandai dengan semakin dekatnya jarak antarkota, daerah, bahkan negara. Dengan teknologi telepon misalnya, kini telah berkembang telepon seluler tanpa kabel. Tak mampu dibayangkan dulunya kita, saat telepon umum diserbu dimana-mana, warung telepon menjadi tempat domisili utama untuk mengantarkan berita yang sifatnya mengikat tempat. Pastilah merepotkan. Tapi kita tak tahu kalau ternyata dikemudian hari telah berkembang media lain yang lebih memudahkan.
Selain telepon, kini ada lagi alat canggih yang tak hanya mengantarkan suara semata, namun juga disertai dengan gambarnya. Sebutlah salah satunya televisi. Dengannya, kita dapat menyaksikan dan mendengarkan suara rakyat dari berbagai seantreo dunia secara langsung. Piala dunia contohnya. Sekali pun pertandingannya diadakan di Afrika, namun masyarakat di Indonesia dapat menyaksikannya secara langsung tanpa harus menunggu kabar berlama-lama hari.
Lalu, apa yang paling menerik di kemudian hari? Nah, inilah yang kita tunggu-tunggu; internet. Ialah ruang informasi terluas tanpa batas. Ia mampu menyediakan informasi yang kita butuhkan tanpa harus menunggu lama-lama, apalagi berrepot-repot diri. Cukup hanya menekan tombol, dan klak-klik sana-sini, semua siap disantap dan dilahap. Jika ingin berkeliling dunia, usahlah kita berrepot-repot menggunakan kapal terbang dengan ongkos jutaan rupiah. Jika ingin tahu informasi tentang Amerika misalnya, maka cukup duduk di depan monitor yang ada di dalam kamar kita, lalu dalam hitungan detik, seluruh wilayah di Amerika dapat kita jelajahi dengan ringannya. Apapun, kapan pun, dan dimanapun.
Inilah internet, sesuatu yang dapat menolong manusia, namun juga tak sedikit yang terjeblos karenanya. Dari yang sifatnya ibadah sampai dengan haram jaddah, semua ada. Maka berbicara sedikit tentang persiapan kita untuk menggapainya, setidaknya ada yang harus kita asah, sebagai modal terbaik untuk menyongsong hari cerah membahagia. Agar globalisasi tak hanya dijadikan media untuk hidup, namun juga penuh manfaat. Apalagi bagi kita yang merasa diri berhamba, pastilah sangat tepat jika ia dijadikan wasilah untuk beribadah.
Menakjubkan sekali urusan orang beriman, kata Rasulullah. Mengapa? Karena segala urusannya adalah untuk kebaikan. Maka semoga, tulisan ini akan membuat Rasulullah kelak takjub. Bukan karena canggihnya internet, padahal Rasulullah tak terlalu perlu tahu itu, namun karena kita berharap agar internet dapat dijadikan wahana untuk kebaikan dan kebenaran. Dan inilah cerminan mukmin sejati. Dalam risalah globalisasi, ada kebaikan dalam berinternet. Dan ini yang kita harap bukan?
---
Islam diturunkan ke muka bumi melalui perantara Nabi Muhammad, bukan untuk menelak hadirnya media internet. Namun lebih kepada solusi atas segala permasalahan dunia. Karena Islam adalah langsung datang dari Allah, bukan manusia. Maka Yang Paling Tahu tentang sekelumit permasalahan dunia pastilah Allah. Islam membawa konsep yang sempurna dalam berbagai bidang, seperti internet. Islam membebaskan kita untuk berekspresi apapun dengan internet, asal tidak melanggar rambu-rambu yang Allah gariskan. Tentu, ini tak hanya sekadar perintah, namun ada hikmah yang terkandung di balik larangan tersebut.
Peradaban internet dalam Islam, selalu memberikan warna dan solusi bagi kita. Islam menjadi tata hidup terbaik bagi dunia per-internetan. Sebab yang datangnya dari Allah, pastilah ia benar. Sedang internet dikembangkan oleh manusia, maka segala sistem yang dibuat manusia pasti memiliki sisi-sisi kebatilan yang jiwa-jiwa shalih dan sehat tak membenarkan akan itu, sekali pun hal-hal kecil. Karena kesalahan pastilah ada. Ada yang secara sengaja, ada juga yang memang disengajakan untuk salah. Maka internet, dalam hal ini, tak jua memungkiri akan sisi tak diharapkan itu. Kita pernah mendengar fatwa haram ber-facebook beberapa silam lalu, bukan? Nah, inilah sebabnya.
Kalau begitu, Islam dengan segala yang teratur di dalamnya, pastilah sangat relevan dengan kehidupan modern. Ia mempersilakan kepada kita untuk menggunakan internet kapan pun dan dimana pun kita perlu, asal dengan tujuan baik. Karena internet adalah air putih, jika diteteskan cairan tinta yang hitam, walalu pun satu tetes, maka segalanya akan hitam memburam. Namun, jika ditaburi dengan gula yang manis, internet pun akan terasa manis dan nikmat untuk disuguhi.
Maka berbicara tentang internet dalam Islam, yang lebih harus dititikberartkan bukan di internetnya, tapi kepada user/penggunanya. Internet adalah mobil. Dan kitalah supirnya. Terserah, kemana kita ingin membawa internet itu. Entah ke jurang, ke tempat yang bermanfaat, atau kemana pun, terserah! Namun tetap, akibatnya akan kita rasakan sendiri. Jika internet kita kemudikan ke jalan yang salah, maka pastilah Islam melarangnya. Namun jika ia membawa kemaslahatan, toh Islam mempersilakan dengan sangat hormat. Karena internet memudahkan, dan Allah suka bermudah-mudah, bukan untuk mempersulit hamba-Nya.
Tentu, kita tak ingin mendengar Republika yang mencatat statistit suram tentang internet, bahwa lebih dari 60% anak-anak kelas IV SD di kota-kota besar, telah mampu mengkonsumsi situs-situs internet yang berbau pornografi. Maka skill kita saat ini bukan untuk menambah daftar urut angka itu. Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk meminimalisir angka itu? Masing-masing punya teori. Yang jelas, Rasulullah datang membawa tawaran surga dan neraka. Lalu mendidik para sahabatnya dalam tarbiyyah/pendidikan yang intens. Agar yang kita pilih adalah surga, dan yang kita jauhi adalah neraka.
---
Ada aksioma yang kita yakini, bahwa di dunia ini senantiasa terjadi pertarungan antara yang hak dengan yang batil. Dan itu terjadi pada dunia maya. Masalahnya, harus diakui bahwa setiap manusia mempunyai kepentingan masing-masing. Nah, kepentingan saja berbenturan. Apalagi latar dari kepentingan yang ada dalam dada dan kepala manusia itu masing permasingnya, pastilah harus melewati jalan pemikiran yang dirasa rumit. Mengukur mana yang haq dan yang batil tak perlu repot kita mempermasalahkannya. Di sana, dalam landasan konsepsi, metode gerak, dan hasil serta dampak dari internet hanya ada dua: Hizbullah dan Hizbus Syaithani. User Allah dan user syaithan. Sebutlah demikian.
Di sini terlihat, kata Sayyid Quthb dalam Zilal-nya, medan yang membentang luas, penuh sesak oleh manusia dalam dinamika yang saling mendesak, saling berlomba, dan saling mendorong mencapai berbagai tujuan. Tetapi di belakang itu semua, ada tangan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengatur, yang memegang semua kendali dan menuntun parade yang saling berdesakan, saling menjatuhkan, dan saling berlomba cepat itu, ke arah kebaikan, kemashlahatan, dan pertumbuhan, di akhir perjalanan.”
Ya. Sayyid Quthb memang benar. Jika kita kaitkan dengan karakter internet yang berbau batil memang pastilah zahuuq (lenyap), tertutup, dan kalah. Ketika Rasulullah membuka Makkah bersama 10.000 bala tentaranya, beliau memasuki Ka`bah, lalu menghancuri berhala-berhala, dan membaca ayat ini,
Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil akan lenyap” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap,” (Q.S. Al-Israa : 81)
Tetapi mengapa kini kita menyaksikan kebathilan dalam internet itu seolah senantiasa eksis? Karena yang benar tidak datang untuk mendesak yang batil. Karena kebenaran berdiam-diam di masjid-masjid, dan bersembunyi dalam mihrab-mihrab, sibuk dengan status dakwahnya di facebook, atau bahkan mengelola situs yang memiliki manfaat sejuta ummat. Karena kebenaran lebih memilih diam di saat kebatilan berbicara. Karena kebenaran tak pernah mendesak dan memusnahkan syaithan internet itu dengan aplikasi canggihnya.
Islam dalam risalah globalisasinya memang mulia. Sekali lagi, sungguh mulia. Dulu, kita baca sejarah-sejarah ketika jalan dakwah buntu, ketika para Rasul telah habis-habisan berusaha untuk bekerja dalam dakwah, lalu tertatih-tatih dan terseot-seot langkah itu bergerak, Allah sendirilah yang kemudian menurunkan azhab-Nya kepada hamba-Nya yang enggan untuk mengikuti jalan kebenaran, bukan jalan batil.
Kita, sebagai insan beriman, dalam berinternet tentu memiliki persepsi dashyat. Ketika Nabi diusir, dilempari bebatuan, dikejar-kejar hingga berdarah-darah, ia tak berdoa seperti Nuh untuk membinasakan kaum itu. Ia justru berdoa agar Allah mengampuni karena ketidaktahuan mereka. Ia justru berharap jikapun mereka tak beriman, kelak anak-anak mereka yang akan beriman. Dan Allah, sekali lagi menegaskan keistimewaan itu untuk kita,
Perangilah mereka, niscaya Allah yang akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (Q.S. At-Taubah : 14)
Jika untuk menghancurkan kaum sebelum Allah menggerakkan kekuatan tentara alam, kini Allah memanggil kita untuk berpartisipasi. Maka dalam moment lomba menulis ini, adalah saat yang tepat bagi saya untuk mencurahkan hal ini kepada mereka yang lalai dalam berinternet bahwa, adzab Allah bagi penentang dan perusak negara, apalagi agama, akan datang lewat tangan-tangan dan ketukan jemari orang-orang mukmin di atas tuts keyboard tulisannya, bukan bencana alam. Siksa itu akan kelak mereka rasakan sebagai sebuah desakan dari kebenaran atas kebatilan melalui upaya yang sistematis dan terprogram. Karena saat ini, kita tak hanya mengenal kriminal dalam dunia nyata, tetapi maya pun ada. Dan kadang-kadang ini yang lebih menyakitkan hati.
Bersiaplah, berperanglah untuk membasmi kebatilan dalam berinternet. Selebihnya, Allah-lah Sang Penolong. Seperti doa yang menjerti di hati mulia di padang Badar, “Ya Allah, jika golongan ini Engkau biarkan binasa, Engkau tak akan disembah lagi di muka bumi… Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah lagi selamanya setelah hari kami ini!” Saya berpikir, jika para ulama dan umara yang ingin membasmi kemungkaran itu bergerak dalam dunia non-maya, lantas, jika bukan saya (baca : diri kita), siapa lagi?
---
Medan sejati kita, insya Allah memang perang mempertaruhkan jiwa, hingga tulisan ini berbicara dalam lomba. Tetapi agaknya di luar medan final ketika besi bertemu besi dan api bertemu api, hari-hari ini kebatilan memilih satu sarana untuk perang dan membungkam kebenaran. Tulisan. Ya. Tulisan. Dominasi yang terkuat ditentukan oleh tulisan. Karena internet tak banyak bersuara, namun berkata dengan kata-kata dalam menulis. Maka semoga, Bhineka Blog Competition memangkan tulisan ini bukan karena ihwal bagusnya tulisan, atau indahnya berkata, atau pun beda dari yang lainnya, melainkan sebuah tulisan yang berani berbahasa dengan kata-kata untuk mewaspadai musuh berselimut kaca. Karena dari sinilah kekhawatiran itu bermula, kita terjebak permainan lawan yang batil, padahal kita memperjuangkan kebenaran. Karena dimana ada dakwah kebenaran, di situ Allah kan hadir membantu. Dakwah lebih sulit bersikap menghadapi tiran-tiran sosialis mapupun raja dan emir yang berlindung di balik beningnya kaca.
Ah, maaf jika saya menggunakan kata “musuh”.
Kata orang Betawi, “Musuh jangan dicari. Kalau ketemu jangan lari. Lu jual, gue beli!” Begitulah keberanian tulisan ini. Karena ia tak menjual kebenaran dalam berinternet, melainkan membeli kebatilan untuk kita hancurkan bersama-sama. Dan mungkin inilah perwakilan dari suara-suara da`i di dunia internet. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Karena kebenaran memang ditaqdirkan untuk menang. Karena kita ingin senantiasa bersama kebahagiaan dalam dunia internet. Kalau tulisan ini dianggap kesalahan, maka semoga kami dikaruniai kesabaran, hingga syahid sebagai orang muslim yang berserah pasrah.
Ya. Dalam bersuara atas atas nama globalisasi di internet, dengan apa kita menghadapi musuh atau sebut saja mafia internet? Tentu saja dengan cinta. Karena cinta bukan hanya pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh dayu. Kita belajar apa itu cinta dari apa yang terjadi di muka bumi, atau pun di muka bermayakan internet. Dari cahaya matahari, dari sepasang merpati, dari sujud dan tengadah doa. Dari kebencian musuh, dari iri dengki para lawan. Dari ketidaktahuan orang yang ingkar degilnya pikiran si munafiq. Dari apapun! Karena inilah suara globalisasi. Islamku, internetku..!
http://www.bhinneka.com
Sabtu, 12 September 2009
Bingung bangat
Aku adalah seseorang yang mempunyai tujuan visi dan misi hidup yang jelas ke depan. Maka mulai dari sekarang, aku selalu menekuni dunia yang paling aku hobbi.
Di satu sisi, aku mulai merasa bingung dan kaku. Bukan masalah tujuan hidup ini, tapi cara untuk mengembangkan tujuan hidup ini. Yang sedang aku butuhkan sekarang adalah training motivasi yang harapanku dari itu semua adalah supaya membekas selamanya. Sehingga pintu kesuksesan menghampiriku melalui usaha ini.
Berbagai usaha telah aku lakukan, justru yang ada malah menumpuk tak satupun terselesaikan. Ditambah aktifitasku yang sangat padat, walaupun sesekali sendiri aku yang mempadatkannya. Entah bagaimana jadinya ini.
kabar terbaru akan aku beritakan lagi.....
besok katanya ada training di Cimanggu BOGOR. coba ah ikut....
ntar perkembangannya aku kasih tahu yah
tulisan ini cuma iseng-iseng aja. Kepala ku sudah berat menanggung kreatifitas hidupku yang tidak kunjung bermuara.
Semoga Allah membukakan jalan-Nya. Karena aku milik Allah
BY : Wassalam
ikhie
Selasa, 18 Agustus 2009
ikhlas bahan bakar mukmin sejati
Jika ada dua orang yang selalu sukses dalam kehidupannya ia diberikan anugrah dan kesempatan yang cukup oleh Allah hidup di dunia ini. Sukses pekerjaannya, ibadahnya, menjadi orang yang terhormat dikalangan masyarakat, harmonis dalam berkeluarga, dan mereka memenuhi seluruh amanah dan tanggung jawabnya di hadapan Allah dan manusia. Kemudian apabila ditanya, manakah diantara keduanya yang paling sukses, mungkin mereka akan menjawab “orang yang bekerja lebih keras”. Akan tetapi, kalau ditinjau dari jawaban tadi lebih seksama lagi, kita akan menyadari bahwa definisi sukses tersebut adalah bedasarkan kriteria duniawi dan tidak berdasarkan Al-Qur`an.
Menurut Al-Qur`an suksesnya seseorang dalam beramal adalah bukan dari kerasnya dalam bekerja, bukan pula mencapai penghormatan atau cinta dari orang lain, terlebih mengharapkan imbalan atas kerjanya selama ini. Melainkan keyakinan dari dalam hati mereka akan Islam. Amal baik yang mereka kerjakan adalah semata untuk mengharapkan keridhaan dari Allah, dan niat baik mereka terpelihara dalam hati. Itulah yang disebut dengan kriteria unggul dalam penilaian ikhlasnya seseorang dalam beramal dihadapan Allah. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur`an
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Hajj [22]: 37)
Sebagaimana disebutkan diatas, amalan yang dilakukan seseorang dengan menyembelih seekor binatang karena Allah. Akan dinilai-Nya bergantung pada ketaatan atau rasa takutnya kepada Allah. Daging atau darah apapun yang disembelih dengan menyebut nama Allah itu tidak ada nilainya apapun sama sekali jika tidak dilakukan karena Allah.
Dalam agama, ikhlas kepada Allah berarti berusaha mendapatkan keridhaan Allah dan kepuasan-Nya tanpa mengharapkan keuntungan pribadi lainnya. Allah juga telah menekankan pentingnya hal ini di dalam ayat lainnya. Ia telah menunjukkan bahwa agama hanya dapat dijalankan dalam sikap berikut.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah [98]: 5)
Dalam perbuatan dan ibadahnya, seorang mukmin sejati tidak pernah berusaha untuk mendapatkan cinta, kepuasan, penghargaan, perhatian, dan pujian dari siapa pun kecuali Allah. Adanya keinginan untuk mendapatkan semua itu dari manusia adalah tanda bahwa ia gagal menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan keikhlasan dan kesucian. lain, bukan Allah. Seorang mukmin sejati harus benar-benar cermat menghindarkan dirinya untuk pamer saat menolong orang lain, bertingkah laku baik, beribadah, ataupun berkorban. Satu-satunya tujuan orang yang ikhlas beriman kepada Allah hanyalah mendapatkan keridhaan Allah. Al-Qur`an juga menekankan bagaimana para nabi menjalankan ritual-ritual keagamaan demi keridhaan Allah dan tidak pernah mengharapkan balasan ataupun keuntungan pribadi.
PANDANGAN ISLAM SEPUTAR BOM BUNUH DIRI
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (semoga Allah merahmatinya) berkata tatkala menceritakan hadits tentang kisah “Ashaabul Ukhdud” (orang-orang yang menanam parit), ketika menyebutkan tentang faidah-faidah yang terdapat dalam kisah tersebut, “bahwasannya seseorang dibenarkan mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang banyak, karena pemuda ini memberitahukan kepada raja cara membunuhnya yaitu dengan mengambil anak panah milik pemuda ini.”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : karena hal ini merupakan jihad fii sabilillah, yang menyebabkan orang banyak beriman, sedangkan pemuda tadi tidak rugi karena ia ia telah mati, dan memang ia akan mati cepat atau lambat.”
Adapun perbuatan sebagian orang yang mengorbankan dirinya dengan cara membawa bom kemudian ia datang kepada kaum kuffar (kafir) lalu meledakannya merupakan bentuk bunuh diri – semoga Allah melindungi kita – terhadap dirinya sendiri. Barang siapa yang melakukan bunuh diri maka ia kekal di Neraka Jahannam selamanya, seperti yang telah disinyalir oleh sebuah hadits nabi, karena orang tersebut melakukan bunuh diri bukan untuk kemaslahatan agama Islam. Sebab jika ia membunuh dirinya serta membunuh sepuluh, seratus, atau dua ratus orang, hal itu tidak mendatangkan manfaat bagi Islam dan tidak ada orang yang mau masuk Islam, berbeda dengan kisah pemuda tadi. Bahkan boleh jadi hal ini akan membuat sebagian orang merasa was-was sebagaimana yang terjadi di Indonesia beberapa hari yang lalu. Hal ini pun bukan malah meninggikan Islam justru menghancurkan Islam itu sendiri. Ditambah polemik yang bercampur dalam kasus ini justru membawa nama agama Islam yang menyebabkan Islam – khususnya di Indonesia – semakin dipandang buruk oleh mata dunia.
Contoh lainnya, seperti apa yang pernah diperbuat oleh orang-orang Yahudi terhadap orang-orang Palestina. Jika di antara penduduk Palestina satu orang yang mengorbankan dirinya dan ia bisa membunuh enam, atau tujuh orang, maka orang-orang Yahudi akan membalasnya dengan memakan korban enam puluh orang atau lebih. Hal tersebut tidaklah memberikan manfaat bagi kaum muslimin, dan tidak pula orang yang melakukannya.
Oleh karena demikian, maka kami berpendapat dalam hal ini bahwasannya perbuatan yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengorbankan dirinya termasuk perbuatan bunuh diri yang tidak sesuai dengan jalan kebenaran, dan menyebabkan pelakuknya masuk ke neraka – semoga Allah melindungi kita – hinnga ia akan merasakan penyesalan yang tiada arti. Pun demikian, pelaku bom itu tidak dikatagorikan sebagai syahid. Akan tetapi jika pelakunya beranggapan bahwa hal itu dibenarkan, maka kami berharap mudah-mudahan ia terbebas dari dosa, tetapi tetap saja tidak dikatagorikan sebagai syahid, karena ia tidak menempuh jalan-jalan yang semestinya ditempuh oleh orang yang syahid. Karena barangsiapa yang berijtihad lalu ia salah maka baginya adalah satu pahala.
Pertanyaan : Bagaimana hukum syar`i terhadap orang yang membawa bom ditubuhnya kemudian meledakkan dirinya di tengah kerumunan orang-orang kafir dengan maksud untuk menghancurkan mereka? Apakah bisa dibenarkan beralasan dengan kisah pemuda yang memerintahkan raja untuk membunuh dirinya?
Jawaban : Orang yanag meletakkan bom dibadannya lalu meledakkan dirinya dikerumunan musuh merupakan suatu bentuk bunuh diri dan akan disiksa di Nereka Jahannam selamanya, disebabkan perbuatan tersebut, sebagaimana yang telah disabdakan Nabi SAW bahwasannya siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu ia akan disiksa karenanya di Neraka Jahannam.
Kalau kita fikirkan lebih mendalam tentang hal ini sungguh sangat aneh melihat para pelaku bom bunuh diri seperti yang terjadi di Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu. Adakah tidak mereka membaca firman Allah “Dan janganlah kamu membunuh diri, sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa : 29). Akan tetapi mereka tetap saja melakukannya, apakah mereka akan mendapatkan sesuatu? Apakah musuh telah kalah? Ataukah sebaliknya, mereka semakin keras terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan ini, seperti yang sedang terjadi di negeri Yahudi, dimana perbuatan-perbuatan tersebut menjadikan mereka jsemakin sombong, bahkan ada ditemukan data bahwasannya pada pertemuan terakhir golongan kanan menang yaitu mereka yang ingin menguasai bangsa Arab.
Akan tetapi orang yang berbuat seperti ini beranggapan bahwa ini adalah pengorbanan di jalan Allah SWT, kami mohon kepada Allah agar ia tidak disiksa karena ia telah menakwilkan dengan takwil yang salah. Dan khusus untuk kejadian di Indonesia hal ini adalah perbuatan yang mutlak salah. Karena bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad – kata mereka – ternyata lebih banyak mengandung unsur mafasid dari pada mashalih yang ada. Seperti membuat sebagian masyarakat merasa resah dan takut apabila berada di suatu tempat yang sangat berpeluang terjadinya hal-hal seperti demikian. Selain itu, perbuatan ini menimbulkan cap buruk kepada sebagian kaum berjanggut yang memang mereka sama sekali tidak ikut terlibat dalam kasus ini. Padahal salah satu ciri-ciri ummat Nabi Muhammad SAW nanti di yaumil mahsyar akan ditandai dengan mereka yang berjanggut, dan ciri-ciri ummat Yahudi adalah mereka yang memanjangkan kumisnya. Yang pada akhirnya kelestarian sunnah ini jadi dipandang buruk akibat ulah para pembom bunuh diri yang mengatasnamakan agama Islam dan berciri-ciri seperti demikian.
Adapun beralasan dengan kisah pemuda ashaabul ukhdud tadi, maka perbuatan pemuda tersebut menjadikan orang masuk islam bukannya menghancurkan musuh. Oleh karena itu, ketika raja mengumpulkan orang banyak lalu ia mengambil anak panah dari tempat-tempat pemuda itu seraya berkata “Dengan nama Allah, tuhan pemuda ini, orang-orang pun berteriak : Tuhan adalah Tuhannya pemuda ini, sehingga menghasilkan ke-Islaman orang banyak. Apabila hal ini terjadi seperti kisah pemuda ini maka bolehlah beralasan dengan kisah tersebut. Nabi SAW menceritakan kepada kita agar diambil sebagai pelajaran. Akan tetapi orang-orang yang beranggapan bahwasannya boleh membunuh diri mereka jika mampu membunuh sepuluh atau seratus pihak musuh, hal itu hanyalah menimbulkan kemarahan dalam diri musuh serta mereka semakin brutal dan berpegang kepada keyakinan mereka.
Kita do`akan semoga Negara Kita Indonesia tidak ada lagi kejadian seperti ini, dan Allah SWT memberikan hidayah kepada mereka yang melakukan dan akan melakukan perbuatan ini agar mereka insaf dan tahu bahwasannya seorang muslim adalah mereka yang memberikan keselamatan/kesejahteraan dengan tangan dan lidahnya kepada saudara muslim yang lain, bukan dengan memberikan kemudharatan dengan membom musuh yang justru malah melukai saudara mereka sendiri. Wallahua`lam.
FIKRI HABIBULLAH MUHARRAM (ikhie_haem@yahoo.co.id)
Senin, 17 Agustus 2009
MENINGGALKAN SHALAT FARDHU
Ulama-ulama serta ummat Islam di Indonesia sedari dulu telah bersepakat bahwa sembahyang yang tertinggal wajib diqadha, dibayar, baik yang tertinggal karena lupa atau karena tertidur atau juga yang sengaja ditinggalkan.
Mengerjakan sembahyang yang tertinggal ialah dengan mengerjakan sembayang tersebut bukan lagi pada waktunya, tetapi pada waktu dibelakangnya.
Oleh karena begitu hukumnya, maka orang takut meninggalkan sembahyang, karena shalat yang semua shalat yang tertinggal selama ia hidup itu wajib dibayar satu persatu, tidak boleh kurang.
Bahkan, andai ada sembahyang yang tertinggal itu belum dibayar (belum diqadha) dan ia wafat, maka ahli warisnya wajib membayar fidyah sembahyang yang tertinggal itu, yaitu memberi makan kepada fakir miskin sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rambu fikih.
Tetapi kepercayaan yang baik itu menjadi goncang, karena ada segelintir orang yang baru belajar agama kemarin sore lantas berfatwa bahwa sembahyang yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tidak wajib diqadha.
Katanya, sembahyang yang ditinggalkan dengan sengaja tidak dapat diburu lagi, tidak dapat dibayar lagi, tetapi yang meninggalkan sudah dicap berdosa dan akan menanggung kelak resikonya nanti di akhirat.
Oke, fatwa yang semacam ini bisa merangsang dan memberanikan orang untuk meninggalkan sembahyang, dengan meremehkan dosa itu dan mengatakan bahwa setelah hampir mati ia tobat saja. Pendeknya, fatwa macam ini menimbulkan rangsangan untuk meninggalkan sembahyang dengan cara yang disengaja.
Terlepas dari itu semua, banyak orang yang bertanya tentang masalah ini kepada para Ustadz-ustadz. Maka dalam rangka membuka pikiran tentang hal ini, saya mecoba membahas sedikit kurangnya tentang masalah ini dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki. Semoga ada bermanfaat khususnya bagi pribadi saya sendiri dan umumnya untuk pembaca sekalian yang dirahmati Allah.
Marilah kita perhatikan baik-baik.
HUKUM TARKUS SHALAH DALAM MAZHAB SYAFI`I
Imam Nawawi, seorang mujtahid fatwa dalam lingkungan mazhab Syafi`i, menerangkan dalam kitabnya Syarah Muslim, Juzu V, halaman 181 begini artinya :
Kesimpulan dalam mazhab Syafi`i adalah :
a. Seseorang yang ketinggalan sembahyang yang fardhu wajib diqadhakan.
b. Andaikata ketinggalan itu karena udzur yang memaksa, maka qadha boleh dilambatkan, tetapi sunnat untuk menyegerakannya. Mengundur-undurkan tanpa sebab adalah dosa.
c. Andaikata ketinggalan itu tanpa uzur sama sekali, umpamanya ditinggal karena disengaja, maka wajib qadha dengan segara. Meskipun demikian ia tetap berdosa (besar).
d. Membayar sembahyang yang banyak tertinggal harus dibayar menurut tertib cara tinggalnya, yang dahulu didahulukan dan yang kemudian dikemudiankan. Tertib ini hukumnya sunnat bukan wajib. (Ada pahala bila dikerjakan secara tertib)
e. Kalau yang tinggal itu sembayang sunnat rawatib, yakni sembahyang sunnat yang biasa dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardhu, maka sembahyangnya harus juga diqadha.
Tetapi sembahyang sunnat yang dikerjakan karena sebab khusus, umpamanya sembahyang kusuf matahari, sembahyang khusuf bulan, sembahyang istisqa, maka tidaklah disyari`atkan mengqadhanya, kalau sudah terlepas dari waktunya.
Demikian hukum fiqih yang bertalian dengan mazhab Syafi`i yang bertalian dengan orang yang ketinggalan sembahyang.
Dalil-dalil yang menguraikan demikian antara lain tersebut dalam kitab hadits yang artinya
Dari Abu Hurairah Rda. Bahwasannya Nabi Muhammad SAW ketika kembali dari peperangan Khaibar, beliau berjalan malam hari, sampai beliau mengantuk dan lalu berhenti untuk tidur.
Nabi memerintahkan kepada para sahabat beliau bernama Bilal (tukang adzan) supaya berjaga-jaga, jangan tidur, dikhawatirkan jangan tidur semuanya.
Nabi terus tidur dan Bilal terus sembahyang pada malam buta itu. Tetapi setelah dekat fajar, Bilal pun mengantuk pula, tidak tahan matanya, maka beliau bersandar pada kendaraannya dan lalu teridur pulas juga.
Maka Rasulullah dan sahabat-sahabat, begitu juga Bilal yang disuruh berjaga-jaga, dibangunkan oleh matahari yang sudah tinggi dan waktu subuh itu luputlah.
Rasulullah SAW mula-mula terbangun dan beliau sangat susah, lalu berkata kepada Bilal : Hai Bilal, bagaimana ini ? Bilal menjawab : Wah, sayapun tertidur pula Ya Rasulullah, saya tidak kuat menahan mata saya.
Tidak jauh dari tempat itu beliau berhenti lagi dan langsung berwudu, memerintahkan Bilal supaya Iqamah. Maka Nabi sembahyang subuh bersama-sama mereka, mengqadha sembahyang subuh yang telah luput.
Setelah selesai mengqadha sembahyang nabi bersabda : Barangsiapa kelupaan sembahyangnya, maka hendaklah ia bayar (qadha) itu kapan dia ingat, karena Tuhan berfirman “Tegakkanlah sembahyang untuk mengingat Aku” (Hadits ini Riwayat Imam Muslim dll, lihat syarah Muslim Juzu 5 halaman 182 – 183)
Dari rangkaian Hadits ini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa :
1. Berjalan pada malam hari boleh tidak apa-apa (bagi laki-laki). Untuk perempuan ada hukum tersendiri.
2. Kalau mengantuk boleh untuk tidur, tetapi kalau fajar sudah dekat haruslah diadakan seorang penjaga yang tidak tidur untuk membangunkan subuh kalau sudah datang.
3. Qadha sembahyang boleh dilambatkan sedikit, karena dalam hadits ini Nabi setelah bangun tidak langsung sembahyang, tetapi berangkat dulu dan setelah beberapa lama berjalan berhenti lagi untuk sembahyang.
Di dalam hadits Muslim yang lain diterangkan pula, bahwa sebabnya beliau berangkat, tidak langsung sembahyang, karena tempat beliau tertidur adalah tempat syaithan. Tetapi qadha yang boleh dilambatkan itu adalah qadha sembahyang yang ditnggalkan tersebab udzur, yaitu tertidur, sebagai keadannya Nabi ketika itu.
4. Mengqadha sembahyang itu boleh dilakukan di luar waktunya karena Nabi sembahyang shubuh yang tertinggal itu seketika mataari sudah naik, sudah di luar waktu subuh.
5. Dalam hadits Muslim lain juga, bertalian dengan masalah ini diterangkan, bahwa Nabi sebelum mengqadha sembahyang subuh beliau sembahyang sunnat dua rakaat, sebagai qadha sunnat shubuh. Ini berarti bahwa sembahyang sunnat rawatib dianjurkan juga mengqadhanya bila tertinggal.
6. Perkataan “barangsiapa yang lupa” dalam hadits ini, maksudnya ialah “barangsiapa yang tertinggal sembahyangnya”, bukan karena lupa betul-betul, karena sebab hadits ini ditetapkan Nabi ialah pada ketika sembahyang teringgal karena tertidur, bukan karena lupa.
Maka dapat dikeluarkan hukum dari hadits ini, bahwa sekalian sembahyang yang tertinggal wajib diqadha, yakni dibayar setelah tiba kesempatan, biar tertinggal itu karena lupa, karena tidur, atau karena disengaja meninggalkannya.
7. Qadha itu wajib hukumnya, karena Nabi memerintahkan di sini dengan perkataan suruh, yaitu “hendaklah ia sembahyang setelah ingat”.
8. Sembahyang itu untuk mengingat Tuhan dan untuk jangan melupakan Dia.
Jadi, kalau misalnya kita bangun pagi jam delapan, maka bersegeralah mengqadha shalat subuh yang pernah ditinggalkan tadi. Jangan mengundur-undurkan sampai jam 9 nanti, terlebih diundurkan entah sampai kapan waktunya.
Tersebut dalam kitab Shahih Muslim juga :
“ketahuilah bahwasannya dalam keadaan tertidur tidak ada sia-sia; Yang sia-sia (yang akan mendapat hukuman) ialah orang yang tidak mengerjakan sembahyang sampai datang waktu sembahyang yang lain. Maka barang siapa memperbuat demikian hendaklah ia bayar ketika ia ingat akan sembahyang itu.” (H.R. Imam Muslim – Shahih Muslim I hal. 275)
Dari Hadits ini dapat dipetik hukum :
1. Sembahyang yang tertinggal karena tertidur tidaklah berdosa. Yang berdosa ialah meninggalkan sembahyang dengan sengaja.
2. Waktu sembahyang itu selain subuh adalah panjang; Waktu zuhur sampai Ashar, waktu Ashar sampai Maghrib, waktu sembahyang Maghrib sampai Isya`, dan Waktu Isya sampai Shubuh, kecuali subuh yang pendek waktunya; yaitu dari mulai terbit fajar shadiq sampai terbit matahari.
Setiap orang wajib sembahyang pada mesti sembahyang pada waktunya, kalau tak dapat pada awal waktu ditengahnya atau diakhirnya. Tidak boleh sama sekai ditinggalkan. Dan sedikit catatan mengenai maksud tidur dalam hadits ini adalah tidur yang memang sama sekali tidak ada sedikitpun rencana untuk meninggalkan shalat.
Jadi misalkan sudah pukul 14.12 siang (untuk WIB DKI) ia belum juga shalat zuhur lantas ia tidur dengan sengaja hingga bangun-bangun telah habis waktu zuhur, maka tidur yang seperti ini sama saja dengan meninggalkan sembahyang dan hukumnya berdosa.
Tersebut juga dalam hadits lain yang artinya :
Barang siapa yang terlupa sembayang atau tertidur maka ia harus membayarkan sembahyangnya itu apabila ia ingat, ada bayaran bagi mereka selain itu. (Hadits Riwayat Imam Muslim)
Dari Hadits ini dapat dipetik hukum :
1. Meninggalkan sembahyang dengan sebab tertidur atau karena lupa tidak berdosa, karena lupa atau tidur diluar kekuasaan manusia. Tetapi tentu asal jangan lupa dan dilupa-lupakan.
2. Membayar sembahyang yang tinggal itu ialah mengqadha sembahyang itu apabila sudah ingat waktunya.
3. Sebaliknya, kalau ia menginggalkan sembahyang dengan sengaja maka ia mendapatkan hukuman dua : 1. Berdosa 2. Mengqadha.
4. Ada tiga waktu dimana manusia terbebas dari dosa yaitu ketika tidur, lupa, dan gila.
Dari berbagai rangkaian dalil di atas, sehingga dalam putaran hukum fiqih dibuatlah hukum yang menyebutkan hanya ada dua sebab yang termasuk udzur dalam sembahyang (tidak ada dosa) namun tetap wajib diqadha. Kedua perkara tersebut adalah tidur dan lupa.
Jadi selain kedua waktu itu tidak ada jalan sama sekali untuk menginggalkan sembahyang –lain dengan wanita yang ada sebab lain seperti haidh – juga selain orang gila (orang gila tidak wajib shalat).
Jelaslah bagi kita ummat Islam bahwa selama tidak ada jalan sama sekali untuk menginggalakan sembahyang. Sekalipun dalam keadaan takut (khawf) maka dalam keadaan ini ia boleh shalat bagaimana yang memungkinkan baginya, seperti misalnya apabila perlu sambil berlari, tiarap, dsb.
Shalat juga merupakan amalan yang paling pertama ditanyakan dalam kubur. Untuk itu perhatikanlah kembali shalat kita, segeralah kita qadha sembahyang yang pernah kita tinggalkan sebelum umur kita habis. Karena setiap detik kita melalaikan waktu qadha yang padahal kita mampu waktu itu untuk mengerjakannya, maka kita selalu dijerat dengan tali dosa.
Waspadalah meninggalkan sembahyang. Kemelaratan ketika hidup di dunia ini, ketika sakratul maut, ketika di alam kubur, ketika hari qiamat, ketika padang mahsyar, sampai ketika neraka nanti selalu mengiringi mereka yang meninggalkan shalat. Maka, shalatlah sebelum kita di shalati.
Semoga ulasan singkat ini ada manfaatnya khususnya bagi saya dan umumnya bagi pembaca sekalian. Penulis akan coba menyambung tulisan ini dilain kesempatan dengan tema siksa orang yang meninggalkan shalat. Waspada, wapada, waspadalah meninggalkan shalat. Hanya kepada Allah kita memohon segalanya.
Fikri Habibullah Muharram
Kalau ada yang salah di edit yah. And kalau mau kasih saran atau kritik yang membangun dipersilahkan dengan senang hati dan penuh harap
Langganan:
Postingan (Atom)
